لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا
SUNGGUH ALLAH LEBIH SAYANG KEPADA HAMBA-HAMBA-NYA
DARIPADA IBU INI KEPADA ANAKNYA
MUQODDIMAH:
Seorang hamba yang beriman harus mengenal
Rabb-nya. Mengenal Allah (Ma’rifatullah) adalah pintu utama agar seorang
hamba bisa mencintai Allah, dan pada akhirnya dicintai oleh Allah. Salah satu
sifat Allah yang sangat agung untuk kita renungkan adalah sifat Kasih
Sayang-Nya. Kita semua tahu bagaimana luar biasanya kasih sayang seorang ibu di
dunia ini, sebuah cinta yang tulus, tanpa pamrih, dan penuh pengorbanan. Namun,
ketahuilah bahwa kasih sayang Allah kepada kita jauh melampaui itu semua.
Makalah ini akan mengupas tuntas hakikat kasih
sayang Allah melalui dalil-dalil syar’i, agar kita tidak hanya mengenal-Nya,
tetapi juga berlari mendekat kepada-Nya dengan penuh harap dan rasa takut (khauf
dan raja’).
HAKIKAT
KASIH SAYANG ALLAH: MELAMPAUI FITRAH SEORANG IBU
Kasih sayang ibu itu memang sepanjang masa.
Baru-baru ini sebuah berita yang berjudul “Setelah 17 Hari Bawa Jasad
Anaknya, Paus Orca Akhiri Tur Duka” membuat kita terharu. Peristiwa yang
menunjukkan bahwa betapa besarnya kasih sayang seorang ibu pada anaknya.
Disebutkan bahwa Paus itu membawa jasad anaknya selama 17 hari dan menempuh
perjalanan mengarungi lautan sejauh 1.600 km. Ia sangat menderita dengan
kematian anaknya, karena kasih sayangnya yang begitu besar.
Pada manusia, demikian pula adanya. Seorang ibu
pasti mempunyai rasa sayang dan belas kasih pada buah hatinya, karena itu
adalah fitrah. Cinta ibu takkan pernah padam. Ia akan usahakan semuanya demi
kebaikan anaknya tersayang. Akan tetapi, kita sangat perlu tahu bahwa kasih
sayang Allah melebihi itu semua.
Perhatikan hadits dari Umar bin Al Khattab radhiallahu
‘anhu berikut ini:
قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيُهَا
تَسْقِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ، فَأَلْصَقَتْهُ
بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
(أَتَرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟). قُلْنَا: لَا، وَهِيَ
تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: (لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ
هَذِهِ بِوَلَدِهَا).
“Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam kedatangan rombongan tawanan perang. Di
tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya.
Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun
memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bertanya kepada kami, ‘Apakah menurut kalian ibu ini akan tega
melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?’ Kami menjawab, ‘Tidak mungkin, demi
Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.’
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh Allah lebih
sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.’” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Taukah kamu, kasih sayang Allah ﷻ kepada kita itu jauh lebih besar dari
kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Bayangkan saja, seorang ibu rela
mengorbankan segalanya demi anaknya berupa waktu, tenaga, bahkan
kebahagiaannya. Tetapi Allah ﷻ kasih sayang-Nya
kepada kita jauh melampaui semua itu. Dia selalu memberikan kita rezeki,
kesempatan, kesehatan, dan kebahagiaan setiap hari, meskipun kita sering lalai
mengingat-Nya.
Takhrij
Hadis dan Biografi Rawi:
Takhrij
Hadis: Hadis tentang kasih sayang Allah ini
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab,
Bab “Menyayangi Anak, Mencium, dan Merangkulnya”, nomor 5999, dan oleh Imam
Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Taubah, Bab “Luasnya Rahmat
Allah Taala”, nomor 2754.
Biografi
Sahabat Rawi (Umar bin al-Khaththab): Umar bin al-Khaththab bin Nufail al-Qurasyi
al-Adawi, kuniyah-nya adalah Abu Hafsh dan digelari al-Faruq serta
Amirulmukminin. Beliau dilahirkan 13 tahun setelah tahun Gajah. Keislaman
beliau menjadi awal kemuliaan bagi kaum muslimin. Menjadi khalifah sepeninggal
Abu Bakar dan menaklukkan Syam, Irak, serta Mesir. Beliau wafat setelah ditikam
pada 26 Zulhijah tahun 23 H dan dikuburkan di samping Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar.
Faedah
Hadits:
1. Disyariatkannya tawanan perang
(Kabilah Hawazin dari Perang Hunain).
2. Bolehnya memandang wanita tawanan
(nukilan Ibnu Hajar).
3. Fitrah seorang ibu untuk
menyayangi dan menyusui anaknya.
4. Metode Pengajaran Nabi:
Menggunakan permisalan pancaindra dan melontarkan pertanyaan untuk menarik
perhatian murid.
5. Qiyas al-Awlaa: Jika
manusia saja (ibu) punya kasih sayang luar biasa, maka Allah yang Maha Pencipta
tentu jauh lebih pantas memiliki kasih sayang yang lebih besar.
6. Kekhususan Rahmat:
Meskipun Allah Maha Penyayang, rahmat-Nya yang khusus (masuk surga) ditetapkan
bagi mereka yang bertakwa (QS. al-A’raaf: 156).
Apapun yang kita lakukan, Allah ﷻ tak pernah berhenti sayang sama kita. Dia
selalu siap mendengarkan doa-doa kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Marilah
berusaha menjadi pribadi yang sadar diri, melakukan perintah-Nya, dan menjauhi
larangan-Nya demi kebaikan kita sendiri.
SYARIAT
SEBAGAI BENTUK KASIH SAYANG:
Harus kita pahami bahwa semua syariat yang
Allah bebankan pada kita, pada hakikatnya adalah bentuk kasih sayang-Nya. Tidak
ada sedikit pun dari perintah-Nya yang akan mencelakakan. Ketika Allah melarang
dari berbuat syirik, membuka aurat, melakukan dosa dan maksiat itu adalah kasih
sayang-Nya. Manfaatnya murni kembali kepada diri kita masing-masing.
Apabila seorang Ibu tersebut tidak tega
melempar anaknya ke dalam api, maka Allah tentu lebih tidak tega lagi melempar
dan mencampakkan hamba-Nya ke dalam api neraka. Akan tetapi apa yang terjadi?
Banyak hamba yang tidak mau mengenal Allah, tidak peduli kepada Allah dan
agama-Nya, bahkan ia lari jauh dari Allah.
Maka kita diperintahkan untuk “lari” menuju
Allah. Allah berfirman:
فَفِرُّوا إِلَى اللهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ
نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Maka
segera berlarilah kalian (kembali) menuju Allah. Sungguh aku (Rasul) seorang
pemberi peringatan yang nyata dari-Nya bagi kalian.” (QS.
adz-Dzaariyaat: 50)
WASPADA
TERHADAP ISTIDRAJ: JANGAN TERTIPU DENGAN NIKMAT
Hendaknya kita tidak terlalu yakin bahwa kita
hamba kesayangan Allah hanya karena limpahan dunia. Jangan sampai kita tertipu
dengan berbagai nikmat dan kemudahan di dunia. Hendaknya kita TIDAK HANYA
bersandar dengan sifat “Allah sangat sayang kepada hamba-Nya” yang
menyebabkan kita lupa dan lalai bahwa Allah juga memiliki azab yang besar dan
pedih.
Allah berfirman:
نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا
الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (49) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الألِيمُ (50)
“Kabarkanlah
pada para hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” (QS.
Al-Hijr: 49-50)
Penjelasan:
Ayat ini mengajarkan
keseimbangan iman. Pada ayat 49, Allah memberikan harapan (Ar-Raja') agar
hamba-Nya tidak berputus asa dari rahmat-Nya yang luas. Namun pada ayat 50,
Allah memberikan peringatan (Al-Khauf) agar manusia tidak meremehkan dosa.
Ibarat burung, rasa takut dan rasa harap adalah dua sayap yang harus seimbang
agar bisa terbang menuju Allah.[1]
Rasulullah ﷺ
juga menggambarkan keseimbangan antara kasih sayang dan azab Allah:
لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ مَا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ
الْعُقُوبَةِ مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ مَا
عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أَحَدٌ
“Andaikan
mukmin mengetahui azab yang disediakan Allah; niscaya tidak ada seorangpun yang
berharap bisa mendapatkan surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui
kasih sayang yang ada pada Allah; niscaya tak ada seorangpun yang tidak
berharap bisa meraih surga-Nya.” (HR. Muslim)
Penjelasan:
Hadits ini menunjukkan
betapa dahsyatnya azab Allah sehingga orang mukmin tidak akan sombong dengan
amalnya, sekaligus menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah sehingga orang
paling berdosa pun tidak boleh berputus asa dari jalan taubat.
MENGENAL
ISTIDRAJ (MAKAR ALLAH):
Nikmat yang terus-menerus disertai keadaan
tidak mengenal Allah bisa jadi adalah Istidraj (jebakan). Allah berikan dunia
kepada seorang hamba agar ia bersenang-senang, namun hakikatnya Allah sudah
tidak peduli kepadanya. Contohnya: bisnis lancar tapi melalaikan shalat, karir
naik tapi tidak menutup aurat. Bagaikan ibu yang membiarkan anaknya main gadget
seharian penuh tanpa pengawasan.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ
مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ
مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ
“Bila
engkau melihat Allah Ta’ala memberi hamba dari (perkara) dunia yang
diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka
(ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan) dari Allah.” (HR.
Ahmad)
Allah juga berfirman tentang makar ini:
أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ
اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
“Maka
apakah mereka merasa aman dari makar Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada
yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS.
Al-A’raf: 99)
Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al-Qar’awi
menjelaskan: “Makar Allah adalah istidraj bagi pelaku maksiat dengan memberikan
kenikmatan/kebahagiaan… mereka tidak memuliakan Allah sesuai dengan hak-Nya.
Mereka tidak merasa khawatir dengan istidraj bagi mereka, padahal mereka
terus-menerus dalam kemaksiatan sehingga turunlah murka Allah.”
KESIMPULAN:
Berdasarkan seluruh pembahasan
di atas, dapat ditarik beberapa poin inti sebagai sari pati pelajaran bagi kita
semua:
1. Hakikat Ma’rifatullah (Mengenal Allah): Mengenal Allah
melalui sifat-sifat-Nya adalah kunci utama untuk menumbuhkan cinta yang hakiki.
Salah satu sifat yang paling menonjol untuk direnungkan adalah rahmat dan kasih
sayang-Nya yang tidak terbatas.
2. Kasih Sayang Allah Melampaui Segalanya: Melalui analogi
hadits shahih tentang seorang ibu yang baru saja menemukan bayinya di medan
perang, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa
Allah jauh lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya.
Jika seorang ibu tidak akan mungkin melempar anaknya ke api, maka Allah lebih
tidak ingin hamba-Nya celaka, kecuali hamba itu sendiri yang lari menjauh
dari-Nya.
3. Syariat adalah Wujud Cinta: Seluruh perintah dan larangan
Allah (syariat) bukanlah beban untuk menyusahkan, melainkan bentuk perlindungan
dan kasih sayang agar manusia tidak terjerumus ke dalam kebinasaan. Manfaat
syariat murni kembali untuk kebaikan hamba di dunia dan akhirat.
4. Keseimbangan Iman (Khauf dan Raja’): Seorang hamba harus
menjaga keseimbangan antara Rasa Harap (Raja’) terhadap luasnya ampunan
Allah agar tidak berputus asa. Serta memiliki Rasa Takut (Khauf)
terhadap pedihnya azab Allah agar tidak meremehkan dosa dan tidak tertipu oleh
amalannya sendiri. Sebagaimana pesan QS. Al-Hijr: 49-50,
Allah adalah Maha Pengampun sekaligus Pemilik Azab yang sangat pedih.
5. Waspada Terhadap Istidraj: Limpahan nikmat dunia yang
dibarengi dengan kemaksiatan bukanlah tanda kecintaan Allah, melainkan Istidraj
(jebakan/makar Allah). Hamba yang cerdas adalah hamba yang merasa khawatir
ketika nikmatnya bertambah namun ketaatannya berkurang, karena tiada yang
merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.
Marilah kita menjadi
pribadi yang sadar diri untuk segera "lari" kembali menuju Allah (fafirruu
ilallah). Jadikanlah kasih sayang Allah sebagai motivasi terbesar untuk
taat, dan jadikanlah peringatan azab-Nya sebagai benteng untuk menjauhi
maksiat. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam naungan rahmat-Nya
hingga kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan Husnul Khatimah.
RAHMAT
ALLAH MENDAHULUI MURKA-NYA (سَبَقَتْ رَحْمَتُهُ
غَضَبَهُ)
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ
فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ
بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka
Aku akan menetapkannya bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat
dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”(QS. Al-A‘rāf: 156)
Ibnu
Katsir menjelaskan: Rahmat Allah secara umum mencakup
seluruh makhluk, baik mukmin maupun kafir, di dunia.
Namun rahmat yang khusus dan sempurna (surga
& keselamatan akhirat) hanya diberikan kepada orang yang bertakwa. Tafsir
Ibnu Katsir, tafsir QS. Al-A‘rāf: 156
Korelasi
dengan materi utama: Kasih sayang Allah yang dibandingkan Nabi ﷺ dengan kasih sayang ibu adalah rahmat
umum, sedangkan surga adalah rahmat khusus yang harus diupayakan
dengan iman dan takwa.
Rahmat
Allah Lebih Besar dari Murka-Nya
إِنَّ اللَّهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ فِي
كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
“Sesungguhnya
ketika Allah menetapkan penciptaan makhluk, Dia menulis dalam kitab yang ada di
sisi-Nya di atas ‘Arsy: ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.’” (HR.
al-Bukhari no. 3194 dan Muslim no. 2751)
Imam
An-Nawawi رحمه الله
menjelaskan: Hadis ini menunjukkan luasnya rahmat Allah, dan bahwa Allah
lebih mencintai ampunan daripada menghukum. Namun ini bukan dalih untuk
bermaksiat, melainkan dorongan untuk taubat. Syarh Shahih Muslim,
Imam An-Nawawi
Jika kasih sayang ibu saja membuatnya mustahil
melempar anak ke api, maka Allah jauh lebih penyayang, namun murka
tetap ada bagi yang membangkang.
Rahmat
Allah & Pendidikan Hati: Jangan Salah Paham
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ
أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah:
Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Menurut Ath-Thabari, ayat ini adalah ayat
paling besar dalam memberi harapan, namun tetap disertai perintah kembali
(taubat), bukan menetap dalam dosa. Tafsir Ath-Thabari
Rahmat Allah bukan pembenaran maksiat, tapi pintu
pulang bagi pendosa.
1. Rahmat Allah bersifat mendahului, bukan
meniadakan azab
2. Kasih sayang Allah adalah motivasi taat, bukan
alasan bermaksiat
3. Orang beriman hidup di antara harap dan takut
4. Nikmat tanpa ketaatan adalah sinyal bahaya, bukan
jaminan cinta Allah
Inilah keseimbangan iman yang diajarkan
Rasulullah ﷺ dan para ulama Ahlus Sunnah.
Faqih Aulia (NPA. 14.3887), Pemuda PERSIS Batununggal
Kota Bandung
Hanafi Anshory (NPA. 09.2040), Pemuda PERSIS Pangalengan
Kab. Bandung.
[1]
Para ulama menjelaskan bahwa seorang mukmin dalam beribadah harus seperti
seekor burung. Kepalanya adalah rasa cinta (mahabbah), sementara kedua
sayapnya adalah rasa takut (khauf) dan rasa harap (raja’). Jika
salah satu sayapnya patah, burung tersebut tidak bisa terbang menuju Allah
dengan sempurna.

Posting Komentar
Terima kasih telah berkomentar, kritik dan saran yang membangun sangatlah diharapkan